Breaking News

Kenapa Orang Jawa Menyebut Mei “Meh Tigo”? Ini Maknanya

Pemandangan petani di sore hari.png

🌾 Makna Bulan Mei dalam Kalender Jawa: Filosofi “Meh Tigo” yang Mulai Dilupakan

🌿 Pendahuluan

Bulan Mei sering dianggap bulan biasa dalam kalender modern. Namun bagi masyarakat Jawa tempo dulu, bulan ini memiliki makna yang sangat dalam dan penuh filosofi kehidupan. Mereka menyebut bulan Mei dengan istilah “Meh Tigo”, sebuah ungkapan sederhana yang menyimpan pengetahuan alam, pertanian, dan kebijaksanaan hidup.

Istilah ini kini mulai jarang terdengar, terutama di kalangan generasi muda. Padahal, di balik kata “Meh Tigo” tersimpan cara pandang orang Jawa dalam membaca alam dan mempersiapkan masa depan.



🌦️ Apa Itu “Meh Tigo”?

Dalam bahasa Jawa:

  • Meh = menuju / hampir

  • Tigo (telu) = tiga

Sehingga “Meh Tigo” berarti “menuju angka tiga”.

Namun angka tiga di sini bukan angka sembarang. Ia merujuk pada siklus musim dalam tradisi Jawa, yaitu:

  1. Musim rendeng (musim hujan)

  2. Musim mareng (masa peralihan)

  3. Musim katiga (musim kemarau)

👉 Bulan Mei berada di fase menuju musim katiga (kemarau)
Inilah alasan utama mengapa bulan Mei disebut “Meh Tigo”.



🌾 Hubungan “Meh Tigo” dengan Dunia Pertanian

Bagi petani Jawa, istilah ini bukan sekadar nama bulan, tetapi petunjuk penting dalam bercocok tanam.

Ketika memasuki bulan Mei, para petani mulai:

  • Bersiap menghadapi musim kemarau

  • Mengurangi tanaman yang membutuhkan banyak air

  • Beralih ke tanaman tahan kering (palawija)

  • Mengatur cadangan air untuk ternak dan kebutuhan rumah

Jadi, “Meh Tigo” adalah alarm alami bagi petani untuk bersiap menghadapi perubahan musim.



🌱 Filosofi Kehidupan dalam “Meh Tigo”

Ungkapan ini juga mengandung nilai kehidupan yang sangat dalam:

1. 🔄 Bersiap sebelum masa sulit datang

Seperti petani yang bersiap menghadapi kemarau, manusia juga diajarkan untuk:

  • menabung saat lapang

  • bersabar saat sulit

  • tidak lalai saat keadaan nyaman

2. 💧 Belajar hidup hemat

Kemarau identik dengan keterbatasan air. Maka dari itu, “Meh Tigo” mengajarkan:

  • hidup secukupnya

  • tidak boros

  • menjaga keseimbangan alam

3. 🌿 Selaras dengan alam

Orang Jawa dulu hidup dengan prinsip:

“Manungsa kudu iso maca tandha alam”

Artinya manusia harus mampu membaca tanda-tanda alam agar hidup selaras dan tidak serakah.



🏡 Relevansi “Meh Tigo” di Zaman Sekarang

Meskipun sekarang kita sudah memakai kalender modern dan teknologi cuaca, nilai dari “Meh Tigo” masih sangat relevan:

  • Perubahan iklim makin nyata

  • Krisis air sering terjadi

  • Gaya hidup boros makin meningkat

Filosofi ini mengingatkan kita untuk:
✔ lebih sadar lingkungan
✔ lebih bijak dalam menggunakan sumber daya
✔ lebih siap menghadapi perubahan hidup



🌄 Kearifan Lokal yang Mulai Terlupakan

Sayangnya, istilah seperti “Meh Tigo” kini mulai hilang dari percakapan sehari-hari. Banyak generasi muda tidak lagi mengenalnya.

Padahal ini adalah:

  • bagian dari identitas budaya Jawa

  • warisan leluhur

  • ilmu kehidupan yang tidak tertulis

Melestarikan istilah ini berarti menjaga akar budaya dan kebijaksanaan lokal.



✨ Penutup

Bulan Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender Masehi. Dalam kearifan Jawa, bulan ini adalah “Meh Tigo” — tanda bahwa musim kemarau akan segera datang.

Lebih dari itu, “Meh Tigo” adalah simbol kesiapan, kesadaran, dan kebijaksanaan hidup. Sebuah pengingat bahwa manusia harus selalu:

  • bersiap sebelum sulit

  • hidup selaras dengan alam

  • dan menjaga keseimbangan kehidupan

Mari kita hidupkan kembali istilah ini, agar tidak hilang ditelan zaman.


Sumber Tulisan: Rahmad Widodo | Nganjuk

Tidak ada komentar